TUGAS KELOMPOK
Disusun Untuk Memenuhi Tugas mata Kuliah
“TEORI KEPRIBADIAN”
Oleh: Intan, S.Psi. M.Pd
Nama Angota Kelompok:
1.
Elya Hartatik 10.1.01.01.0102
2.
Ria Andriani 10.1.01.01.0243
3.
Erfani Dwi .A 10.1.01.01.0105
4.
Tri Purnama Sari 10.1.01.01.0285
5.
Tutut Puri .R 10.1.01.01.0287
6.
Yesi Irma .D 10.1.01.01.0305
7.
Zuli Nur Indah 10.1.01.01.0315
PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI TAHUN
2011
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah
Tuhan semesta alam. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi
kita Muhammad SAW. Beserta keluarga dan para sahabat-sahabatnya.
Syukur Alhamdulillah
berkat taufiq dan hidayah dari Alloh Swt. Kami dapat membuat makalah ini.
Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Amiin. Dengan makalah ini semoga kita
bisa mengetahui apa yang belum kita ketahui
Kami menyadari bahwa
dalam membuat makalah ini, masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahanya,
maka untuk itu permohonan maaf serta permintaan saran dan kritik kami sampaikan
kepada pembaca serta semua pihak yang terkait.
Semoga makalah ini
dapat bermanfaat dan mendapat ridho dari Alloh swt. Amiin..
Kediri, 18 Mei 2011
Penulis
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................. i
KATA PENGANTAR.............................................................................. ii
DAFTAR ISI.............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang Masalah............................................................ 1
1.2
Tujuan
Penulisan....................................................................... 2
1.2.1
Tujuan
Khusus............................................................... 2
1.2.2
Tujuan
Umum................................................................ 2
1.3
Tujuan
Pembahasan................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1
Orientasi Teori Cattell............................................................... 3
2.2 Riwayat Hidup Cattell.............................................................. 3
2.3 Hakikat Kepribadian................................................................. 5
2.4
Perkembangan Kepribadian...................................................... 19
2.5 Konteks Sosial.......................................................................... 23
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan............................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Ilmu selalu diupayakan untuk mengembangkan
metodologi dimana pertanyaan telah terjawab menggunakan seperangkat prinsip,
psikologi tidak berbeda. Dalam upaya untuk memahami kepribadian yang berbeda pada
manusia, raymond bernad cattell mempertahankan keyakinan bahwa taksonomi umum
dapat di kembangkan untuk menjelaskan perbedaan tersebut.
Alanilisis factor merupakan suatu teknik yang telah
digunakan secara luas sebagai alat penelitian empiris oleh para peneliti dalam
berbagai orientasi teoretis. Demikian pula halnya kepribadian cattell
dikembangkan berdasarkan metode analisis factor ini. Para ahli kepribadian lain
yang menggunakan metode ini adalah eysenk, guilford, burt, thurstone, dan stephenson.
Pencetus metode analisis factor ini adalah spearmen
(1940). Dia seorang ahli psikologi inggris yang terkenal dengan penelitiannya mengenai
kemampuan mental. Menurut dia menguji dua tes kemampuan yang berhubungan, akan
ditemukan 2 faktor, yaitu :
1.
General faktor (seperti : kemampuan verbal,
Intellegensi umum, dan tingkat pendidika) sebagai unsur penting dari kedua tes
tersebut.
2.
Specific faktor (seperti : daya ingat, persepsi
ruang, dan informasi khusus) sebagai unsure yang unik dari masing-masing tes.
Analisis factor
ini dikembangkan sebagai cara untuk menentukan factor-faktor umum (general
factor). Teori factor ini secara khusus memulai suatu study tentang tingkah
laku dengan sejumlah besar skor bagi setiap subjek penelitian. Skor-skor
tersebut diperoleh dari angket, penilaian, tes situasional atau dari
sumber-sumber lain yang memadai. Idealnya pengukuran tes ini meliputi sejumlah
aspek tingkah laku yang beragam.
Para ahli teori
analisis factor berupaya menyusun pengukuran tingkah laku secara luas,
mengidentifikasi factor-faktor yang menopang pengukuran itu, dan mencoba
menyusun cara-cara yang lebih efisien untuk menaksir atau menilai factor-faktor
tersebut.
Seperti halnya
cattell, untuk mengumpulkan data, tentang tingkah laku atau melakukan
pengukuran tentang kepribadian dia menggunakan tiga pendekatan, yaitu sebagai
berikut:
Life ratting, yaitu catatan mengenai tingkah laku individu dalam
situasi kehidupan sehari-hari.
Self ratting, yaitu penilaian diri yang dapat melengkapi data yang
diperoleh dengan cara life record.
Objectife test, merupakan observasi-observasi terhadap individu
dalam situasi yang diciptakan secara khusus supaya dapat dibuat ramalan mengenai
tingkah laku individu tersebut dalam situasi lain.
1.2
Tujuan Penulisan
Dengan dibentuknya makalah ini, kami sebagai
penyusunnya mempunyai tujuan penulisan makalah ini. Adapun tujuannya telah kamu
rinci sebagai berikut:
1.2.1 Tujuan Khusus
Makalah
ini ditujukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Kepribadian sebagai syarat
melengkapi tugas pertengahan semester genap tahun 2011.
1.2.2 Tujuan Umum
Mendeskripsikan
Teori Kepribadian Analisis Factor Raymond Bernard Cattell.
1.3
Tujuan Pembahasan
1.3.1
Agar mahasiswa ikut berpartisivasi mempelajari Teori
Kepribadian Analisis Faktor.
1.3.2
Agar mahasiswa dapat menerapkannya dalam
kehidupannya sehari-hari.
BAB
I I
PEMBAHASAN
2.1
Orientasi Teori
Kepribadian Cattell
Raymond Cattell adalah seorang peneliti
yang sangat menaruh perhatian pada metode kuantitatif dalam memperoleh
masalah-masalah dan data psikologis. Baginya teknik analisis faktor merupakan
suatu alat yang dapat digunakan untuk menjelaskan macam-macam masalah yang
telah tersusun di dalam kerangka kerjanya yang sistematis.
Teori Cattell mencoba menghimpun dan
mengorganisasikan penemuan-penemuan studi analisis faktor mengenai teori kepribadian.
Walaupun metode pokoknya analisis faktor, namun dia menggunakan juga hasil-hasil
atau penemuan‑penemuan dari para ahli yang menggunak metode-metode lain. Dalam hal ini dapat
dicari kesamaannya dengan Allport, yaitu bahwa keduanya menekankan “sifat atau
karakteristik kepribadian” atau “trait theory”, dengan Kurt Lewin di dalam
kemampuannya untuk menerjemahkan ide-ide psikologis ke dalam bentuk-bentuk
matematis, juga dengan Henry Murray. Keduanya mempunyai pandangan yang luas
tentang kepribadian. Keduanya mengungkapkan bimbingan dan konseling karir
motivasi, yaitu “need” bagi Murray, dan “dynamic traits” bagi Cattell. Dalam
formulasi teoretisnya, Nampak berkaitan dengan teori McDougall, yang berusaha mencari dimensi-dimensi yang mendasari tingkah laku,
dan yang menekankan “self regarding sentiment”. Sedangkan teorinya mengenai
perkembangan kepribadian tampak dipengaruhi oleh rumusan-rumusan Freud.
2.2
Riwayat Hidup Cattell
Cattell dilahirkan di Staffordhshine
Inggris pada tahun 1905. skema pendidikan formalnya diselesaikan di Inggris.
Dia memperoleh gelar B.Sc. dari Universitas London pada tahun 1924, dan
selanjutnya Ph.D. dalam psikologi pada tahun 1929, juga dari Universitas
London.
Pada tahun 1928-1931 menjadi lektor pada
University College of Sout West, Extter Inggris. Tahun 1932-1937 menjadi
direktur City Psychological Clinic, di Leicester Inggris. Tahun 1937
dianugerahi gelar D.Sc. oleh Universitas London, berkat jasa-jasanya dalam
penelitian mengenai kepribadian. Tahun 1937-1938 sebagai research associate
pada Teacher College, Columbia University. Tahun 1938-1942 menjadi dosen pada
Clark University, dan pada tahun 1942-1944 dosen pada Harvard University. Sejak
tahun 1944 sebagai research proifessor of Psychology pada Illionis University,
dan sebagai Direktur The Laboratory of Personality and Group Behavior Research,
sampai tahun 1973.
Pelatihan ilmiah Cattell mulai pada usia
dini ketika ia dianugerahi masuk ke King's College di Cambridge Univesiti di
mana ia lulus dengan gelar Bachelor of Science dalam Kimia pada tahun 1926
(Lamb, 1997). Menurut rekening pribadi, sikap sosialis Cattell's, dipasangkan
dengan kepentingan yang dikembangkan setelah mengikuti kuliah Cyrill Burt pada
tahun yang sama, mengalihkan perhatiannya untuk mempelajari psikologi, masih
dianggap sebagai filsafat (Horn, 2001). Setelah menyelesaikan studi doktor
psikologi pada tahun 1929 Cattell pengajar di Universitas di Exetermana, pada
tahun 1930, ia membuat kontribusi apa pun dalam ilmu psikologi dengan Intelijen
Cattell Tes (skala 1, 2, dan 3), Selama studi persekutuan pada tahun 1932, ia
mengalihkan perhatian kepada kepribadian fokus penguki terhadap pemahaman
masalah ekonomi, sosial dan moral dan bagaimana tujuan penelitian psikologis
pada keputi moral bisa membantu masalah tersebut (Lamb, 1997). Kontribusi Cattell
paling terkenal dengan ilmu psikologi juga berkaitan dengan studi tentang
kepribadian. 16 Cattell's Personality Factor Model bertujuan untuk membangun taksonomi
umum ciri-ciri menggunakan pendekatan leksikal untuk mempersempit bahasa alami
dengan standar sifat kepribadian yang berlaku. Meskipun teorinya belum pernah
direplikasi, kontribusi untuk analisis faktor telah sangan berharga untuk
mempelajari psikologi.
2.3
Hakikat Kepribadian
a.
Makna Kepribadian
Sistematika
pendapat Cattell sangat kompleks. Hal ini, disebabkan oleh keyakinannya, bahwa
pencandraan mengenai kepribadian haruslah selengkap mungkin, dan karenanya
harus dapat menyerasikan berbagai data yang diperoleh dengan berbagi motode,
baik dari penyelidikan klinis, maupun dari eksperimen-eksperimen nonklinis, selanjutnya diatur dan dianalisis
dengan analisis faktor.
Cattell
menganggap upaya mendefinislkan kepribadian secara terinci harus menunggu
spesifik isi yang penuh dengan konsep-konsep pada saat seorang teoretis merencanakan
untuk menggunakan konsepnya dalam studinya mengenai tingkah laku. Dia
mengemukakan definisi kepribadian ini sangat umum, yaitu: "Personality is
that which permits a prediction of what a person will do in a given
situation" (kepribadian merupakan suatu yang prediktif tentang apa yang
akan dilakukan oleh individu dalam situasi tertentu).
Berdasarkan
definisi tersebut, Cattell berpendapat bahwa tujuan penelitian psikologi mengenai kepribadian adalah menetapkan
hukum-hukum mengenai apa yang akan dilakukan orang dalam berbagai situasi.
Jadi kepribadian adalah persoalan mengenai segala aktivitas individu, baik yang
tampak maupun yang tidak tampak.
Dengan
demikian jelaslah, bahwa penekanan Cattell dalam mempelajari kepribadian
meliputi "all behavior" (segala tingkah laku). Implikasi dari
pendapat ini, bahwa pengertian tentang bagian-bagian kecil dari tingkah laku
hanya dapat dimengerti secara sempurna, bila dilihat dalam kerangka kerja yang
lebih luas dalam fungsi organisme secara lengkap.
Cattell
memandang kepribadian sebagai suatu struktur traits yang beragam dan kompleks,
dengan motivasinya (unsur pendorongnya) yang disebut "dynamic traits". Konsep dia mengenai traits ini
bermacam.-macam, seperti specification equation, dan dynamic lattice.
b.
Traits
Traits
merupakan konsep yang paling penting dalam pendapat Cattell. Sebenarnya
konsep-konsep yang lain dipandang sebagai bentuk-bentuk khusus dari traits itu.
Cattell
berpendapat, bahwa traits merupakan "mental structure", yaitu suatu
kesimpulan yang diambil dari tingkah laku yang dapat diamati, untuk menunjukkan
keajegan dan ketetapan dalam tingkah laku itu. Konsep mengenai traits ini dapat
diuraikan sebagai berikut.
1.)
Surfase and Source traits
Surface
traits (sifat-sifat/karakteristik permukaan) adalah kelompok variabel yang
tampak, yang dapat dilihat oleh orang lain, sedangkan source traits
(sifat/karakteristik asal) adalah variabel-variabel yang mendasari tingkah laku
yang nampak, dan dapat diketahui hanya dengan melalui teknik analisis factor.
Cattell
berpendapat, bahwa sifat/karakteristik asal lebih penting daripada
sifat/karakteristik permukaan (yang tampak). Dia mengatakan bahwa sifat/karakteristik
asal itu merupakan struktur yang dapat mempengaruhi terbentuknya kepribadian.
Sifat-sifat/karakteris asal ini, juga mempengaruhi problem-problem perkembangan
psikosoinatik, dan problem integrasi yang dinamis.
Sifat/karakteristik
permukaan merupakan hasil interaksi dari sifat/karakteristik asal. Menurut
Cattell, bagi orang lain, nampaknya sifat/karakteristik permukaan ini lebih
berarti dan lebih diakui daripada sifat/karakteristik asal, karena dapat langsung
disaksikan dari pengamatan yang sederhana. Namun dalam rangka yang lebih
mendalam, sifat/karakteristik asal merupakan masalah yang lebih mendasari
tingkah laku.
Kiranya
jelas, bahwa setiap sifat/karakteristik mungkin merupakan hasil dari bekerjanya
faktor-faktor lingkungan, keturunan (pembawaan), atau kedua-duanya.
Menurut
Cattell, sifat/karakteristik permukaan selalu merupakan hasil dari lingkungan
dan keturunan sedangkan sifat/karateristik asal dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu yang bersumber kepada reflect heredity, dan constitutional factors dan
environmental factors.
Sifat-sifat/karakteristik
yang dihasilkan dari kondisi lingkungan disebut environinent-mold traits. Dan yang
dari reflect heredity factors disebut constitutional traits.
Traits
itu, dapat juga dibagi berdasarkan modalitas ekspresinya, jika ekspresi
karakteristik/sifat itu berhubungan dengan kegiatan individu untuk mencapai
suatu tujuan, maka sifat/karakfteristik itu dinamakan dynamic trait; jika ekspresi
sifat itu berhubungan dengan efektif tidaknya tujuan yang dicapai individu
disebut ability traits; dan apabila ekspresi sifat itu berhubungan dengan aspek
konstitusional seperti speed (kecepatan), energy, atau reaktivitas emosional,
disebut temperament traits.
Menurut
cattell, ada tiga pendekatan dalam menghimpun data tentang kepribadian, atau
sifat-sifat individu (sebagaimana telah dikemukakan di atas), yaitu sebagai
berikut. life record atau L data; self ratting questionnaire, atau Q data; dan
objective test, atau T data.
Dengan
ketiga pendekatan di aats, Cattell telah berhasil menghimpun
sifat-sifat/karakteristik umum kepribadian. dalam hal ini Eysenk mengemukakan
factor-faktor atau sifat-sifat/karakteristik umum kepribadian. dalam hal ini
Eysenk mengemukakan factor-faktor atau sifat-sifat kepribadian dari Cattell
sebagai berikut.
Faktor A: Cyclothymia
vs Schzothymia
|
A+
|
A-
|
|
Easygoing
Adaptable (in habit)
Warmhearted,
attentive to people
Frank, placid
Emotional,
expreassive
Trustful,credulous
Implulsive, generous
CO-operative,
self-effacing
Subject to personal
Emotional appeals
Humorous
|
Obstructive,
cantangerous
Inflexible, rigid
Cool, indifferent
Close-moutehed,secreative
Reserved
Suspicious, canny
Close, cautious
Hostile, egotistical
Impersonal
Dry, impassive
|
Faktor B: Intelligence
|
B+
|
B-
|
|
Intelligent
Thoughtful, Cultured
Penicucring, conscientious
Smart, assertive
|
Unintelligent
Unreflective,
boorish
Quitting,
conscienceless
Dull,
submissive
|
Faktor C: Ego strength vs Neuroticism
|
C+
|
C-
|
|
Emotionally
stable
Free
of neurotic symptoms
Not
hypochondiriacal
Realistic
ablut life
Unworried
Steadfast,
self-controlled
Calm.
Patient
Persevering
and thorough
Loyal,
dependable
|
Emotional
dissatisfield
Showing
a variety of neurotic
Symptoms
Hypochondriacal,
plaintive
Evasive,
immature, austistic
Worryng,
anxious
Changeable
Excitable,
impatient
Quitting,
careless Undependable morally
|
Faktor D: Excitability vs Insecurity
|
D+
|
D-
|
|
Demanding,
impatient
Attentiongetting
exhibitionistic
Exciable,
overative
Prone
to jealousy
Self-asserive,
egotistical
Nervous
symptouns
Changcable,
lacks persitence
Untrustworthy
|
Emotionally
mature
Self-SUMICiOnt
Deliberate
Not
easily jealous
Self-effacing
Absence
of nervous symptoms
Self-cntrolled
Conscientious
|
Faktor E: Dominance vs Submissiveness
|
E+
|
E-
|
|
Self-assertive,
confident
Beasufull,
condedined
Aggressive,
pugnacious
Extrapunitive
(in the sense intro
duced
brosenswig)
Vigorous.
Forceful
Witfulegotistical
Rather
solemn of unhappi
Adventurous
|
Submissive,
unsure
Modest,
restring
Complaisant
Impunitive,
intropunitive
Meek,
quiet
Obedient
Lightheartse
chaerpul
rimidin
retiring
Taxcipuf,
conventional
|
T E 0 R I K E P R I B A D I A N
|
E+
|
E-
|
|
Insentive
to social disappoval
Unconventional
Reserved
|
Frank,
expressive
|
Faktor F: Surgency vs Desurgency
|
F+
|
F-
|
|
Cheerful,
joyours
Sociable,
responsive
Energetic,
rapid in movement
Homorous,
witty
Talkative
Placid,
content
Resourceful,
original
Adaptable
Showing
equanimity
Trusful,
sympathetic, open
|
Depreed,
pessimistic
Seclusive,
retiring
Subdued,
languid
Dull,
phlegmatic
Taciturn,
introspective
Worryng,
antion, unable to relax
obsessional
Show
to accept a situation
Bound
by habit, rigid
Unstable
mood level
Suspicious,
brooding, narrow
|
Faktor G: Superego strenghto
|
G+
|
G-
|
|
Persvering,
determined
Responsible
Insistenl
ordered
Conscientious
Attentive
to people
Emotionaly
stable
|
Quitting
fickle
Frivlous,
immature
Realxe,
indolent
Unscruplulous
Neglectful
of social chores
Changeable
|
Faktor H: Parinia (parasympathetic
imuunity) vs Threctia (threat reactivity)
|
H+
|
H-
|
|
Adventurous,
likes, meeting; people
Shows
strong interest in opposite sex
Kindly,
friendly
Frank
Impulsive
(but no inner tension)
Likes
to "get into the swim"
Self-confident
Carefree
|
Shy,
timid, witlidwawn
Little
interest in opposite sex
Hard,
hostile
Secretive
Inhibited,
conscientious
Recoils
from life
Lacking
confidence
Careful,
concderate
|
Faktor I: Premsia vs Harria
|
I+
|
I-
|
|
Demanding,
impatient
Dependent,
immature
Kindly,
friendly
Frank
Impulsive
(but no inner tension)
Likes
to "get into the swim"
Self
confident
Carefree
|
Emotionaly
mature
Independent-minded
Hard,
hostile
Secretive
Unhibited,
conscientious
Recoils
from life
Lacking
confidence
Careful,
considerate
|
Faktor J: Coastheitia (TILinhing Neurasthenia) vs
Zeppia
|
J+
|
J-
|
|
Acts
individualistically
Passively
pedantically obstructs
Show
to make up his mind
Inactive,
meekm quiet
Neuraschtencally
neurotically fatigusd
Self
sufficien
Evaluatics
intellectuality
Personal
peculiar interests
|
Goes
with group
Co-operative
enterprises
Decisive
in thinking
Active,
assertive
Vigprous
Assention
gesting
Evaluates
by continion standards
Common
"wide" biterests
|
Faktor
K: Contention vs Abetiltion
|
K+
|
K-
|
|
Intelectual
interess, analitycal
Polished,
poised, composed
Unshanlble
Independent-minded
Consctientious,
idealistic
Aesthetic
and mucisal tastes
Introspective,
sensitive
|
Unreflective,
narrow
Awleward,
socially clumsy
Easily
sociallu embarrassed
Going
with the crowd
Lacking
sence of any social duty
Lacking
aesthetic interacts
Crude
|
Factor L: Protension (Paranoid trend) vs Inner
Relaxation
|
L+
|
L-
|
|
Suspicious
Jealous
Self-suhfcient,
withdrawn
|
Trustful
Understanding
Composed,
socially at home
|
Factor M: Autia vs. Praxernia
|
M+
|
M-
|
|
Unconvetnional,
ecceatric
Aesthetically
fastidious
Sensitivelu
imaginative
“A
law unto himself', undependable
Placid,
complacent, absorbed
Occasional
hysterical emotional
Intellectual,
cultured interests
|
Convensional
Uninterested
in art
Practical
and logical
Conscientious
Werryng,
anxious, alret
Poised,
tough control
Narrower
interests upsets
|
Factor N:
Shrewdness vs Natvety
|
N+
|
N-
|
|
Polished,
socially skilful
Exact
mind
Cool,
aloof
Aestheticallu
fastidious
Insightful
regarding self
Insigtful
regarding others
|
Socialy
clumsy, awkward
Vague
and sentimental mind
Company-seeking
Lacking
independece of taste
Lacking
self insight
Naive
|
Factor O: Guilt proneness vs Confidence
|
O+
|
O-
|
|
Worrying
Lonely
Suspeicious
Sensitive
Discouraged
|
Self-confident
Self-sulfficient
Accepting
Tough
Spiritual
|
2) The Specification Equation
Spesifikasi equation
merupakan cara untuk melukiskan kepribadian yang berhubungan dengan
sifat-sifat 'abilitas temperamen, dan sifat-sifat lainnya, serta untuk
memprediksi respon individu terhadap situasi-situasi tertentu. Cara tersebut
menggunakan rumus sebagai berikut.
R = S1 T1... sn Tn
R = Respon atau tingkah laku individu dalam
situasi tertentu
T
= Karakteristik respon individu atau
traits yang berfungsi dalam situasi tersebut
S = Situasi tersebut yang relevan dengan setiap
traits
Jika sifat
(traits) tertentu mempunyai relevansi (tingkat hubungan) yang tinggi dengan
respon maka persesuaian dengan S akan menjadi besar; jika sifat itu semuanya
tidak relevan, maka s akan menjadi 0 (nol); dan
jika trait itu memperkecil atau merintangi respon maka tanda s akan menjadi
negatif. Bentuk equasi ini berarti bahwa setiap trait itu mempunyai kebebasan
(independent) dan memberikan pengaruh terhadap respon.
Spesifikasi equasi mencakup dimensi
individu (person) dan situasi psikologis. Individu dilukiskan dengan skor-skornya
mengenai serangkaian trait, yaitu profile trait. Sedangkan situasi psikologis
dilukiskan dengan situasi-situasi atau profile yang lainnya.
Cattell menyatakan bahwa spesifikasi
equasi dapat dipandang sebagai suatu versi multidimensional dari formulasi
Kurt Lewin mengenai tingkah laku berbagai fungsi dari individu dengan
lingkungan, yaitu sebagai berikut.
B
= F (P,E)
Di
dalam spesifikasi equasi, individu (P) didefinisikan ke dalam rangkaian T,
sedangkan lingkungan psikologis (E) ke dalam rangkaian S.
Di
dalam kehidupan akademis, spesifikasi equasi itu dapat dikembangkan untuk
memprediksi prestasi akademis dari variabel ability dan kepribadian.
3)
Dynamic Traits (sifat-sifat yang dinamis)
Menurut Cattell, ada tiga jenis dynamic
traits yang pokok yaitu: attitudes, ergs dan sentiment. Erg berhubungan dengan
drive dasar atau drive biologis; sentimen diperoleh dari struktur attitude. Ketiga jenis dynamic trait tersebut saling
berhubungan di dalam dynamic lattice, dan peranannya di dalam konflik dan
adjusment.
a)
Attitudes
(sikap)
Menurut Cattell, sikap
merupakan manifestasi variabel yang dinamis, dan pernyataannya dapat diamati
sikap individu dalam situasi tertentu merupakan suatu perhatian yang memiliki
intensitas tertentu dan kecenderungan bertindak terhadap objek.
Contohnya, seperti
sikap seorang pemuda: “saya ingin sekali mengawini seorang wanita”.
Pernyataannya mengenai "ingin sekali" merupakan intensitas perhatian
"mengawini" sebagai kecenderungan bertindak; dan seorang wanita"
merupakan objek.
b)
Ergs
Pengertian ergs adalah
constitutional, dynamic, dan coerce trait. Pengertian inilah yang memberinya kemungkinan
untuk menunjukkan pentingnya faktor dasar dalam tingkah laku, yang oleh
kebanyakan ahli psikologis Amerika diabaikan.
Cattell mendefinisikan
erg itu sebagai disposisi psikofisik dasar (pembawaan) yang memungkinkan
pemiliknya untuk memperoleh relativitas (perhatian pengakuan) terhadap
objek-objek tertentu yang lebih siap dari yang lainnya; untuk mengalami emosi
yang khusus terhadapnya; dan memulai suatu kegiatan yang lebih sempurna dalam
tujuan kegiatan tertentu dari pada yang lainnya. Pola ini meliputi juga
subsidiasi tingkah laku yang memadai untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam definisi tersebut
terdapat empat bagian utama, yaitu: respon perseptual, respon emosional,
tindakan instrumental untuk mencapai tujuan, dan kepuasan mencapai tujuan itu
sendiri.
Jika kedua bagian
terakhir itu digabungkan, maka pendapat Cattell ini sama dengan pendapat
McDougall, yang mengatakan bahwa setiap tindakan (yang merupakan pelaksanaan
dari pada insting atau propencity), selalu mempunyai tiga aspek yaitu:
kognitif, afektif, dan konatif. Dengan demikian erg dapat diartikan sebagai
disposisi kepribadian yang dibawa sejak lahir, yang terdiri atas komponen-komponen
kognitif, afektif, dan konatif yang mendasari variasi kepribadian.
Cattell menetapkan 10
erg yang disusun berdasarkan penelitian analisis faktornya, yaitu sebagai
berikut.
1.
Hunger
(lapar)
2.
Sex
3.
Gregarousness
(dorong untuk berkelompok)
4.
Parental
protectiveness (perlindungan orang tua)
5.
Curiosity
6.
Escaper
(fear)
7.
Pugnacity
(sifat suka bertengkar/berkelahi)
8.
Acquisitiveness
(sifat suka memiliki)
9.
Self-assertion
(pengungkapan diri)
10. Narcissistic sex (senang kepada seks
diri sendiri).
c)
Sentimen
Sentimen adalah sifat
lingkungan, dan sifat asal yang dinamis. Dengan demikian sentimen paralel
dengan erg, hanya sentimen dihasilkan juga oleh faktor pengalaman atan faktor
sosiso-cultural.
Menurut Cattell,
sentimen adalah struktur trait dinamis yang pokok, yang menyebabkan individu
menaruh perhatian terhadap objek tertentu, dan mereaksi dengan cara-cara
tertentu pula.
Sentimen menurut Cattell,
cenderung diorganisasi sakitar objek-objek kultural pokok, seperti lembagalembaga
sosial, atau individu yang menghasilkan konstelasi sikap yang meluas selama
individu mengalami hidupnya.
d) Dinamic Lattice
Macam-macam trait yang
dinamis saling berhubungan dalam pola subsidiasi (istilah ini dipinjam oleh
Cattell dari Muray). Dikatakan demikian, karena elemen-elemen tertentu
merupakan subsider (penopang) bagi yang lainnya atau melayani sebagai cara-cara
untuk mencapai tujuan.
Pada umumnya,sikap merupakan
subsider bagi sentimen; dan sentimen bagi erg, yang menjadi kekuatan pendorong
dalam kepribadian. Macam keterhubungan ini dinyatakan dalam dynamic lattice.
Sentimen terhadap istri
terbentuk atas pernyataan erg, mengenai sex, gregariousness protection, dan
self-assertion, Sentimen terhadap Tuhan merupakan ekspresi dari unsur-unsur
erg, yaitu self-submission, dan appeal (permohonan). Sedangkan yang di sebelah
kiri adalah attitude (sikap). Masing-masing sikap itu menjadi subsider bagi
satu atau lebih sentimen. Di samping attitude kadang-kadang dapat berfungsi
sebagai subsider bagi erg secara langsung.
4)
The Self
Self merupakan salah satu bagian dari
sentimen, dan mempunyai fungsi yang sangat penting. Fungsi self adalah mengintegrasikan
segala komponen kepribadian, schingga kepribadian merupakan suatu “unitas”
(suatu kesatuan).
Pendapat Cattell mengenai self ini mirip
dengan pendapat Freud tentang ego, serta mirip dengan pendapat McDougal tentang
sentiment of self regard.
Hal yang mengatur dan mengintegrasikan
itu disebut oleh Cattell “structural self” atau “self sentiment”. Di samping
struktural self ini ada juga ideal self dan real self. Ideal self adalah diri
yang diinginkan (dicita-citakan) oleh seseorang, sedangkan real self adalah
ciri yang seharusnya menurut pertimbangan rasional. Jadi setidak-tidaknya pada
masa kanak-kanak, real self ini merupakan refleksi yang sempurna dari ideal
self, dan karenanya real self itu juga merupakan subsider terhadap ideal sell.
Kalau perkembangan berlangsung dengan baik, real self dan ideal self akan
berintegrasi, dan menjelma dalam sell sentitnetil. Inilah individu yang telah
berpendirian (dan karenanya juga bertingkah laku) realistis.
5)
Konflik dan Penyesuaian
Cattell
menunjukkan, bahwa untuk mengetahui konflik dan kecenderungan tingkah laku
individu, adalah dengan cara spesifikasi equasi yang melibatkan sifat-sifat
dinainis individu, seperti erg dan sentimen dalam suatu kegiatan. Contohnya,
seorang laki-laki berminat untuk kawin. dengan menggunakan formula spesifikasi
equasi, maka dapat di gambarkan sebagai berikut ini.
I Marry =
0.2 E (curiosity) + 0.6 E (sex) + 04 E
(gregariousness) - 0.3 F, (fear) + 0.3 M
(parents) - 0.4 M (career) + 0.5 M (self)
E =
erg
M =
sentiment
Perkawinan itu secara potensial
memberikan ganjalan terhadap erg-nya, yaitu sex, gregariousness, dan curiosity;
dia berfikir bahwa orang tuanya pun menyetujuinya, dan ini sangat baik bagi
self-esteemnya. Akan tetapi di samping itu sangat takut akan masa depan
perkawinan itu, karena, mengancam karirnya.
Cattell menunjukkan bahwa index bagi
tingkah konflik yaitu dengan rasio penjumlahan bobot situasi negatif dengan
bobot situasi positif. Seperti contoh di atas dapat dihitung indexnya sebagai
berikut:
(0.3+0.4)/(0.2+0.6+0.4+0.3+0.5)=0.7/20=0.35
(tingkat konflik tersebut sedang).
Untuk mengetahui tingkat adjustment
(penyesuaian) atau integrasi motivasi dalam diri individu, adalah dengan rumus:
1 – C (index conflict)
Jadi
tingkat adjusment itu adalah 1 - 0.35 = 0.65
6)
States, roles, dan sets
Pola-pola tertentu dalam maju mundurnya
kepribadian dipengaruhi juga oleh faktor-faktor: mood states change perubahan
suasana hati), a parson stepsinto or out of a particular role (tahapan
perubahan peranan individu), dan monentary mental sets (set mental sesaat)
yang disesuaikan dengan aspek-aspek lingkungan.
Semua faktor tersebuut mempengaruhi
tingkah laku, oleh karena itu faktor tersebut harus dilibatkan dalam
spesifikasi equasi. Dengan demikian untuk menjelaskan perilaku (behavior)
individu melalui spesifikasi equasi adalah sebagai berikut.
B = a (ability) + T (temperament) + e (erg)
+ s (sentoment) +
st (suite) + r
(role) + s (set).
2.4
Perkembangan kepribadian
a.
Analisis Pembawaan dan Lingkungan
Cattell, dalam beberapa tahun lamanya
telah menaruh perhatiannya secara aktif untuk menaksir bobot pengaruh faktor
genetik dan lingkungan terhadap traits (sifat-sifat/karakteristik).
Untuk mencapai tujuan tersebut, dia mengembangkan
suatu metode (1960) yang disebut MAVA. (Multiple Abatract Variance Analisys).
Data yang telah dikumpulkan dengan alat tersebut, dianalisis dan kemudian membuat
estimasi mengenai proporsi variasi individual bagi setiap trait yang dihubungkan
dengan macam-macam genetic dan lingkungan, dan kemudian dicari korelasi dan
interaksi di antara faktor-faktor tersebut.
Dari hasil studinya, ada satu
kecenderungan bahwa korelasi antara hereditas dengan lingkungan lebih banyak
negatif. Cattell menafsirkan penemuan ini, sebagai bukti untuk a law of
coerctionto the biosocial mean, yaitu suatu kecenderungan dari pengaruh lingkungan
untuk menentang secara sistematis terhadap ekspresi variasi genetic. Seperti
bila orang tua (unsur social lainnya) mencoba untuk membedakan anak-anaknya
dari norma yang sama, mengenai tingkah laku dengan menanamkan rasa malu
terhadap yang satu, dan membiarkan berbuat sewenang-wenang terhadap lainnya.
b.
Belajar (learning)
Cattell mengemukakan tiga jenis belajar
yang memainkan peranan penting dalam perkembangan kepribadian, yaitu sebagai berikut.
1.
Clasical
conditioning
2.
Instrumental
cooperatif conditioning
3.
Integration
learning
Cattell berpendapat bahwa clasical
conditioning dianggap penting dalam memperoleh respon-respon emosional dan
syarat lingkungan; sedangkan instrumental conditioning untuk menetapkan
cara-cara memuaskan tujuan erg.
Suatu bentuk dari instrumental
conditioning dalam mempelajari kepribadian disebut confluence learning, yaitu
tingkah laku atau sikap secara simultan memuaskan lebih dari satu tujuan.
Dengan demikian satu sikap dapat menjembatani beberapa macam sentimen, dan
satu sentiment terhadap beberapa erg.
Jenis ketiga dari belajar itu adalah
integrasi learning jenis ini nampaknya sebagai faktor esensial dari bentuk
instrumental learning yang lebih seksama. Di dalam belajar integrasi, individu
belajar untuk memperluas pemuasan dengan menyatakan unsur-unsur erg pada
berbagai moment (kesempatan), suppressing (pelarangan), represi, atau usaha sublimasi
lainnya. Belajar integrasi ini merupakan aspek kunci dari formasi self dan
super ego sentiment.
Menurut Cattell, personality learning
sebaiknya dilukiskan sebagai perubahan multidimensional dalam merespon
pengalaman dalam situasi yang multidimensional pula. Suatu cara mempelajari
personal itu learning, adalah dengan suatu prosedur yang disebut adjustment
path analysis. Caranya: pertama, dengan informasi tentang perubahan trait yang
terjadi di dalam sejumlah diri individu, boleh jadi di dalam merespon
keteraturan hidup itu, mereka dapat menyesuaikan diri. Kedua, dengan analisis teoretis
mengenai macam-macam cara adjusment yang memungkinkan (seperti regresi, sublimasi,
fantasi, dan simpotneurotik) individu dapat merespon situasi kehidupan yang
konflik.
Cattell telah melengkapi analisis
teoretis mengenai adjusment ini dengan suatu serial dynamic cross road, atau chiams.
Dynamic cross road yang dilalui individu dalam perkembangannya itu adalah
sebagai berikut.
1)
Dynamic cross road yang pertama
Ini
terjadi apabila individu memeulai usaha untuk mendapatkan pemuasan bagi sesuatu
erg tertentu. Akibat dari usaha ini mungkin individu memperoleh kepuasan, akan
tetapi mungkin juga gagal karena menghadapi rintangan.
2)
Dynamic cross road kedua
Yang
kedua ini, individu mulai berada pada keadaan gagal dalam mencapai tujuan
karena adanya rintangan yang dihadapinya. Untuk merespon kegagalan tersebut mungkin
individu memberikan respon sebagai berikut.
a)
meningkatkan
aktivitas yang menuju pemuasan;
b)
marah
yang dapat mengatasi rintangan dan menuju kepemuasan;
c)
marah
yang membuktikan kegagalan dalam menghadapi rintangan.
3)
Dynamic cross road ketiga
Yang ketiga ini mulai,
apabila individu bereaksi dengan kemarahan tapi tidak mengatasi masalahnya.
Akibat dari situasi ini mungkin individu akan:
a)
Putus
asa atau menyerah;
b)
Takut
dan menarik diri;
c)
Tetap
pada agresinya yang tak efektif;
d) Lari ke dalam fantasi
4)
Dynamic cross road keempat
Pada yang keempat ini,
individu meninggalkan erg yang bersangkutan. Dalam keadaan ini respon individu mungkin:
a)
Menekan
erg (refresi)
b)
Mensublimasikan
erg kepada tujuan lain yang dapat lebih diterima;
c)
Tetap
pada tingkah laku yang non-adaptif.
5)
Dynamic cross road kelima
Pada yang kelima ini,
berawal pada keadaan individu yang melakukan penekanan (represi). Dalam
menghadapi situasi seperti ini, ada beberapa respon individu yang nungkin
timbul, yaitu:
a)
Membentuk
fantasi;
b)
Mensublimasikannya
c)
Dynamic
cross road keenam
6)
Dynamic cross road yang keenam
Yang ke enam ini
berawal dari penekanan yang tidak sepenuhnya berhasil, karena impuls-impulsnya
itu masih nuncul dalam kesadaran. Dalam keadaan ini Cattell menunjukkan sepuluh
jalan yang dapat ditempuh, yaitu dalam bentuk-bentuk mekanisme pertahanan, di
antaranya: fantasi, proyeksi, rasionalisasi, dan regresi.
2.5
Konteks Sosial
Kehidupan
sosiokultural dapat dipandang sebagai faktor determinan yang mempengaruhi
tingkah laku (kepribadian). Dalam hal ini Cattell menggunakan istilah syntality
untuk kelompok (equivalent dengan kepribadian untuk individu).
Untuk
mempelajari kepribadian dalam hubungannya dengan faktor sosio-kultural adalah
membuat rencandraan mengenai syntality berbagai kelompok yang mempengaruhi kepribadian
individu yang sedang dipelajari.
Banyak
lembaga sosial yang berpengaruh terhadap kepribadian, seperti: keluarga,
pekerjaan, sekolah, kelompok sebaya, agama, dan partai politik. Dengan demikian,
untuk dapat memahami perkembangan kepribadian secara baik, perlu membuat
spesifikasi mengenai peranan pengaruh lembaga sosial itu terhadap kepribadian
individu dalam perkembangannya.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
a.
Implikasi Teori Kepribadian Cattell terhadap Bimbingan
dan Konseling
Dalam
memahami kepribadian, Cattell menggunakan berbagai pendekatan, seperti: life
record, self rating dan objective test, Hal ini mengimplikasikan tentang perlunya
menggunakan berbagai alat atau teknik pengumpulan data untuk memahami
kepribadian siswa (klien). Hal ini juga mengisyaratkan bahwa konselor perlu
memahami tentang alat-alat pengumpul data, dan mampu menafsirkan atau
menganalisis data tersebut.
Konsep
kepribadian menurut Cattell meliputi “all behavior” dari individu, baik yang
nampak maupun yang tidak nampak. Sehubungan dengan hal tersebut maka konselor
dalam memahami kepribadian klien itu, jangan mengidentifikasi perilakunya yang
nampak saja, tetapi juga tingkah laku yang berada di balik tingkah laku yang
nampak tersebut. Karena pada umumnya masalah klien itu justru terletak pada
tingkah lakunya yang tidak nampak itu.
Setiap
individu memiliki dynamic trait, yaitu sikap, erg dan sentimen. Sifat-sifat tersebut
sangat mempengaruhi tingkah laku individu. Oleh karena itu, dalam membantu
pemecahan masalah klien, konselor perlu menelusuri dinamika ketiga jenis sifat
tersebut pada diri klien.
Perkembangan
kepribadian individu, akan berlangsung dengan baik, bila terdapat integrasi
antara ideal self dan real self-nya. Akan tetapi apabila yang terjadi kebaliknya,
yaitu adanya kesenjangan antara kedua self tersebut, maka akan terjadi
degredasi kepribadian. Individu yang seperti ini akan mengalami berbagai masalah,
di antaranya gejala salah suai. Gejala ini sering dialami oleh para siswa. Oleh
karena itu, konselor perlu memberikan bantuan kepada mereka, agar dapat
mengintegrasikan ideal self dengan real self-nya.
DAFTAR PUSTAKA
·
Nurihsan
Juntika. A dan L.N Yusuf Syamsu. 2000. Teori
Kepribadian. Jakarta : Rosda
·
http://www.google.com/index.php.analisisfaktor.net.id