Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan Konseling
Praktek

Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan Konseling
Praktek

Jumat, 11 Oktober 2013

“TEORI KEPRIBADIAN”



TUGAS KELOMPOK
Disusun Untuk Memenuhi Tugas mata Kuliah
“TEORI KEPRIBADIAN”
Oleh: Intan, S.Psi. M.Pd




 



Nama Angota Kelompok:

1.             Elya Hartatik                                   10.1.01.01.0102
2.             Ria Andriani                                    10.1.01.01.0243
3.             Erfani Dwi .A                                  10.1.01.01.0105
4.             Tri Purnama Sari                              10.1.01.01.0285
5.             Tutut Puri .R                                    10.1.01.01.0287
6.             Yesi Irma .D                                    10.1.01.01.0305
7.             Zuli Nur Indah                                10.1.01.01.0315


PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI TAHUN 2011







KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi kita Muhammad SAW. Beserta keluarga dan para sahabat-sahabatnya.
Syukur Alhamdulillah berkat taufiq dan hidayah dari Alloh Swt. Kami dapat membuat makalah ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Amiin. Dengan makalah ini semoga kita bisa mengetahui apa yang belum kita ketahui
Kami menyadari bahwa dalam membuat makalah ini, masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahanya, maka untuk itu permohonan maaf serta permintaan saran dan kritik kami sampaikan kepada pembaca serta semua pihak yang terkait.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan mendapat ridho dari Alloh swt. Amiin..


Kediri, 18 Mei 2011


Penulis











DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................      i
KATA PENGANTAR..............................................................................      ii
DAFTAR ISI..............................................................................................      iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang Masalah............................................................      1
1.2              Tujuan Penulisan.......................................................................      2
1.2.1        Tujuan Khusus...............................................................      2
1.2.2        Tujuan Umum................................................................      2
1.3              Tujuan Pembahasan...................................................................      2

BAB II PEMBAHASAN
2.1       Orientasi Teori Cattell...............................................................      3
2.2       Riwayat Hidup Cattell..............................................................      3
2.3       Hakikat Kepribadian.................................................................      5
2.4       Perkembangan Kepribadian......................................................      19
2.5       Konteks Sosial..........................................................................      23

BAB III PENUTUP
3.1       Kesimpulan...............................................................................      24

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................







BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang Masalah
Ilmu selalu diupayakan untuk mengembangkan metodologi dimana pertanyaan telah terjawab menggunakan seperangkat prinsip, psikologi tidak berbeda. Dalam upaya untuk memahami kepribadian yang berbeda pada manusia, raymond bernad cattell mempertahankan keyakinan bahwa taksonomi umum dapat di kembangkan untuk menjelaskan perbedaan tersebut.
Alanilisis factor merupakan suatu teknik yang telah digunakan secara luas sebagai alat penelitian empiris oleh para peneliti dalam berbagai orientasi teoretis. Demikian pula halnya kepribadian cattell dikembangkan berdasarkan metode analisis factor ini. Para ahli kepribadian lain yang menggunakan metode ini adalah eysenk, guilford, burt, thurstone, dan stephenson.
Pencetus metode analisis factor ini adalah spearmen (1940). Dia seorang ahli psikologi inggris yang terkenal dengan penelitiannya mengenai kemampuan mental. Menurut dia menguji dua tes kemampuan yang berhubungan, akan ditemukan 2 faktor, yaitu :
1.        General faktor (seperti : kemampuan verbal, Intellegensi umum, dan tingkat pendidika) sebagai unsur penting dari kedua tes tersebut.
2.        Specific faktor (seperti : daya ingat, persepsi ruang, dan informasi khusus) sebagai unsure yang unik dari masing-masing tes.
Analisis factor ini dikembangkan sebagai cara untuk menentukan factor-faktor umum (general factor). Teori factor ini secara khusus memulai suatu study tentang tingkah laku dengan sejumlah besar skor bagi setiap subjek penelitian. Skor-skor tersebut diperoleh dari angket, penilaian, tes situasional atau dari sumber-sumber lain yang memadai. Idealnya pengukuran tes ini meliputi sejumlah aspek tingkah laku yang beragam.
Para ahli teori analisis factor berupaya menyusun pengukuran tingkah laku secara luas, mengidentifikasi factor-faktor yang menopang pengukuran itu, dan mencoba menyusun cara-cara yang lebih efisien untuk menaksir atau menilai factor-faktor tersebut.
Seperti halnya cattell, untuk mengumpulkan data, tentang tingkah laku atau melakukan pengukuran tentang kepribadian dia menggunakan tiga pendekatan, yaitu sebagai berikut:
Life ratting, yaitu catatan mengenai tingkah laku individu dalam situasi kehidupan sehari-hari.
Self ratting, yaitu penilaian diri yang dapat melengkapi data yang diperoleh dengan cara life record.
Objectife test, merupakan observasi-observasi terhadap individu dalam situasi yang diciptakan secara khusus supaya dapat dibuat ramalan mengenai tingkah laku individu tersebut dalam situasi lain.
1.2         Tujuan Penulisan
Dengan dibentuknya makalah ini, kami sebagai penyusunnya mempunyai tujuan penulisan makalah ini. Adapun tujuannya telah kamu rinci sebagai berikut:
1.2.1   Tujuan Khusus
Makalah ini ditujukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Kepribadian sebagai syarat melengkapi tugas pertengahan semester genap tahun 2011.
1.2.2   Tujuan Umum
Mendeskripsikan Teori Kepribadian Analisis Factor Raymond Bernard Cattell.
1.3         Tujuan Pembahasan
1.3.1   Agar mahasiswa ikut berpartisivasi mempelajari Teori Kepribadian Analisis Faktor.
1.3.2   Agar mahasiswa dapat menerapkannya dalam kehidupannya sehari-hari.


BAB I I
PEMBAHASAN

2.1         Orientasi Teori Kepribadian Cattell
Raymond Cattell adalah seorang peneliti yang sangat menaruh perhatian pada metode kuantitatif dalam memperoleh masalah-masalah dan data psikologis. Baginya teknik analisis faktor merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk menjelaskan macam-macam masalah yang telah tersusun di dalam kerangka kerjanya yang sistematis.
Teori Cattell mencoba menghimpun dan mengorganisasikan penemuan-penemuan studi analisis faktor mengenai teori kepribadian. Walaupun metode pokoknya analisis faktor, namun dia menggunakan juga hasil-hasil atau penemuan‑penemuan dari para ahli yang menggunak  metode-metode lain. Dalam hal ini dapat dicari kesamaannya dengan Allport, yaitu bahwa keduanya menekankan “sifat atau karakteristik kepribadian” atau “trait theory”, dengan Kurt Lewin di dalam kemampuannya untuk menerjemahkan ide-ide psikologis ke dalam bentuk-bentuk matematis, juga dengan Henry Murray. Keduanya mempunyai pandangan yang luas tentang kepribadian. Keduanya mengungkapkan bimbingan dan konseling karir motivasi, yaitu “need” bagi Murray, dan “dynamic traits” bagi Cattell. Dalam formulasi teoretisnya, Nampak berkaitan dengan teori McDougall, yang berusaha mencari  dimensi-dimensi yang mendasari tingkah laku, dan yang menekankan “self regarding sentiment”. Sedangkan teorinya mengenai perkembangan kepribadian tampak dipengaruhi oleh rumusan-rumusan Freud.

2.2         Riwayat Hidup Cattell
Cattell dilahirkan di Staffordhshine Inggris pada tahun 1905. skema pendidikan formalnya diselesaikan di Inggris. Dia memperoleh gelar B.Sc. dari Universitas London pada tahun 1924, dan selanjutnya Ph.D. dalam psikologi pada tahun 1929, juga dari Universitas London.
Pada tahun 1928-1931 menjadi lektor pada University Col­lege of Sout West, Extter Inggris. Tahun 1932-1937 menjadi direktur City Psychological Clinic, di Leicester Inggris. Tahun 1937 dianugerahi gelar D.Sc. oleh Universitas London, berkat jasa-jasanya dalam penelitian mengenai kepribadian. Tahun 1937-1938 sebagai research associate pada Teacher College, Columbia University. Tahun 1938-1942 menjadi dosen pada Clark University, dan pada tahun 1942-1944 dosen pada Harvard University. Sejak tahun 1944 sebagai research proifessor of Psychology pada Illionis University, dan sebagai Direktur The Laboratory of Personality and Group Behavior Research, sampai tahun 1973.
Pelatihan ilmiah Cattell mulai pada usia dini ketika ia dianugerahi masuk ke King's College di Cambridge Univesiti di mana ia lulus dengan gelar Bachelor of Science dalam Kimia pada tahun 1926 (Lamb, 1997). Menurut rekening pribadi, sikap sosialis Cattell's, dipasangkan dengan kepentingan yang dikembangkan setelah mengikuti kuliah Cyrill Burt pada tahun yang sama, mengalihkan perhatiannya untuk mempelajari psikologi, masih dianggap sebagai filsafat (Horn, 2001). Setelah menyelesaikan studi doktor psikologi pada tahun 1929 Cattell pengajar di Universitas di Exetermana, pada tahun 1930, ia membuat kontribusi apa pun dalam ilmu psikologi dengan Intelijen Cattell Tes (skala 1, 2, dan 3), Selama studi persekutuan pada tahun 1932, ia mengalihkan perhatian kepada kepribadian fokus penguki terhadap pemahaman masalah ekonomi, sosial dan moral dan bagaimana tujuan penelitian psikologis pada keputi moral bisa membantu masalah tersebut (Lamb, 1997). Kontribusi Cattell paling terkenal dengan ilmu psikologi juga berkaitan dengan studi tentang kepribadian. 16 Cattell's Personality Factor Model bertujuan untuk membangun taksonomi umum ciri-ciri menggunakan pendekatan leksikal untuk mempersempit bahasa alami dengan standar sifat kepribadian yang berlaku. Meskipun teorinya belum pernah direplikasi, kontribusi untuk analisis faktor telah sangan berharga untuk mempelajari psikologi.


2.3         Hakikat Kepribadian
a.        Makna Kepribadian
Sistematika pendapat Cattell sangat kompleks. Hal ini, disebabkan oleh keyakinannya, bahwa pencandraan mengenai kepribadian haruslah selengkap mungkin, dan karenanya harus dapat menyerasikan berbagai data yang diperoleh dengan berbagi motode, baik dari penyelidikan klinis, mau­pun dari eksperimen-eksperimen  nonklinis, selanjutnya diatur dan dianalisis dengan analisis faktor.
Cattell menganggap upaya mendefinislkan kepribadian secara terinci harus menunggu spesifik isi yang penuh dengan konsep-konsep pada saat seorang teoretis merencanakan untuk menggunakan konsepnya dalam studinya mengenai tingkah laku. Dia mengemukakan definisi kepribadian ini sangat umum, yaitu: "Personality is that which permits a pre­diction of what a person will do in a given situation" (ke­pribadian merupakan suatu yang prediktif tentang apa yang akan dilakukan oleh individu dalam situasi tertentu).
Berdasarkan definisi tersebut, Cattell berpendapat bahwa tujuan penelitian psikologi mengenai kepribadian adalah menetapkan hukum-hukum mengenai apa yang akan di­lakukan orang dalam berbagai situasi. Jadi kepribadian adalah persoalan mengenai segala aktivitas individu, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.
Dengan demikian jelaslah, bahwa penekanan Cattell dalam mempelajari kepribadian meliputi "all behavior" (segala tingkah laku). Implikasi dari pendapat ini, bahwa pengertian tentang bagian-bagian kecil dari tingkah laku hanya dapat dimengerti secara sempurna, bila dilihat dalam kerangka kerja yang lebih luas dalam fungsi organisme secara lengkap.
Cattell memandang kepribadian sebagai suatu struktur traits yang beragam dan kompleks, dengan motivasinya (unsur pendorongnya) yang disebut "dynamic traits". Konsep dia mengenai traits ini bermacam.-macam, seperti specification equation, dan dynamic lattice.

b.        Traits
Traits merupakan konsep yang paling penting dalam pen­dapat Cattell. Sebenarnya konsep-konsep yang lain dipandang sebagai bentuk-bentuk khusus dari traits itu.
Cattell berpendapat, bahwa traits merupakan "mental structure", yaitu suatu kesimpulan yang diambil dari tingkah laku yang dapat diamati, untuk menunjukkan keajegan dan ketetapan dalam tingkah laku itu. Konsep mengenai traits ini dapat diuraikan sebagai berikut.
1.)      Surfase and Source traits
Surface traits (sifat-sifat/karakteristik permukaan) adalah kelompok variabel yang tampak, yang dapat dilihat oleh orang lain, sedangkan source traits (sifat/karakteristik asal) adalah variabel-variabel yang mendasari tingkah laku yang nampak, dan dapat diketahui hanya dengan melalui teknik analisis factor.
Cattell berpendapat, bahwa sifat/karakteristik asal lebih penting daripada sifat/karakteristik permukaan (yang tam­pak). Dia mengatakan bahwa sifat/karakteristik asal itu merupakan struktur yang dapat mempengaruhi terbentuknya kepribadian. Sifat-sifat/karakteris asal ini, juga mempengaruhi problem-problem perkembangan psikosoinatik, dan problem integrasi yang dinamis.
Sifat/karakteristik permukaan merupakan hasil interaksi dari sifat/karakteristik asal. Menurut Cattell, bagi orang lain, nampaknya sifat/karakteristik permukaan ini lebih berarti dan lebih diakui daripada sifat/karakteristik asal, karena dapat langsung disaksikan dari pengamatan yang sederhana. Namun dalam rangka yang lebih mendalam, sifat/karak­teristik asal merupakan masalah yang lebih mendasari tingkah laku.
Kiranya jelas, bahwa setiap sifat/karakteristik mungkin merupakan hasil dari bekerjanya faktor-faktor lingkungan, keturunan (pembawaan), atau kedua-duanya.
Menurut Cattell, sifat/karakteristik permukaan selalu merupakan hasil dari lingkungan dan keturunan sedangkan sifat/karateristik asal dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang bersumber kepada reflect heredity, dan constitutional fac­tors dan environmental factors.
Sifat-sifat/karakteristik yang dihasilkan dari kondisi lingkungan disebut environinent-mold traits. Dan yang dari reflect heredity factors disebut constitutional traits.
Traits itu, dapat juga dibagi berdasarkan modalitas eks­presinya, jika ekspresi karakteristik/sifat itu berhubungan dengan kegiatan individu untuk mencapai suatu tujuan, maka sifat/karakfteristik itu dinamakan dynamic trait; jika eks­presi sifat itu berhubungan dengan efektif tidaknya tujuan yang dicapai individu disebut ability traits; dan apabila ekspresi sifat itu berhubungan dengan aspek konstitusional seperti speed (kecepatan), energy, atau reaktivitas emosional, disebut temperament traits.
Menurut cattell, ada tiga pendekatan dalam menghimpun data tentang kepribadian, atau sifat-sifat individu (sebagaimana telah dikemukakan di atas), yaitu sebagai berikut. life record atau L data; self ratting questionnaire, atau Q data; dan objective test, atau T data.
Dengan ketiga pendekatan di aats, Cattell telah berhasil menghimpun sifat-sifat/karakteristik umum kepribadian. dalam hal ini Eysenk mengemukakan factor-faktor atau sifat-sifat/karakteristik umum kepribadian. dalam hal ini Eysenk mengemukakan factor-faktor atau sifat-sifat kepribadian dari Cattell sebagai berikut.






Faktor A: Cyclothymia vs Schzothymia
A+
A-
Easygoing
Adaptable (in habit)
Warmhearted, attentive to people
Frank, placid
Emotional, expreassive
Trustful,credulous
Implulsive, generous
CO-operative, self-effacing
Subject to personal
Emotional appeals
Humorous 
Obstructive, cantangerous
Inflexible, rigid
Cool, indifferent
Close-moutehed,secreative
Reserved
Suspicious, canny
Close, cautious
Hostile, egotistical
Impersonal

Dry, impassive
Faktor B: Intelligence
B+
B-
Intelligent
Thoughtful, Cultured
Penicucring, conscientious
Smart, assertive
Unintelligent
Unreflective, boorish
Quitting, conscienceless
Dull, submissive
Faktor C: Ego strength vs Neuroticism
C+
C-
Emotionally stable
Free of neurotic symptoms
Not hypochondiriacal
Realistic ablut life
Unworried
Steadfast, self-controlled
Calm. Patient
Persevering and thorough
Loyal, dependable
Emotional dissatisfield
Showing a variety of neurotic
Symptoms
Hypochondriacal, plaintive
Evasive, immature, austistic
Worryng, anxious
Changeable
Excitable, impatient
Quitting, careless Undependable morally
                                                         

Faktor D: Excitability vs Insecurity
D+
D-
Demanding, impatient
Attentiongetting exhibitionistic
Exciable, overative
Prone to jealousy
Self-asserive, egotistical
Nervous symptouns
Changcable, lacks persitence
Untrustworthy
Emotionally mature
Self-SUMICiOnt
Deliberate
Not easily jealous
Self-effacing
Absence of nervous symptoms
Self-cntrolled
Conscientious

Faktor E: Dominance vs Submissiveness
E+
E-
Self-assertive, confident
Beasufull, condedined
Aggressive, pugnacious
Extrapunitive (in the sense intro
duced brosenswig)
Vigorous. Forceful
Witfulegotistical
Rather solemn of unhappi
Adventurous
Submissive, unsure
Modest, restring
Complaisant
Impunitive, intropunitive
Meek, quiet
Obedient
Lightheartse chaerpul
rimidin retiring
Taxcipuf, conventional

T E 0 R I   K E P R I B A D I A N
E+
E-
Insentive to social disappoval
Unconventional
Reserved


Frank, expressive





Faktor F: Surgency vs Desurgency
F+
F-
Cheerful, joyours
Sociable, responsive
Energetic, rapid in movement
Homorous, witty
Talkative
Placid, content
Resourceful, original
Adaptable
Showing equanimity
Trusful, sympathetic, open
Depreed, pessimistic
Seclusive, retiring
Subdued, languid
Dull, phlegmatic
Taciturn, introspective
Worryng, antion, unable to relax
obsessional
Show to accept a situation
Bound by habit, rigid
Unstable mood level
Suspicious, brooding, narrow

Faktor G: Superego strenghto
G+
G-
Persvering, determined
Responsible
Insistenl ordered
Conscientious
Attentive to people
Emotionaly stable
Quitting fickle
Frivlous, immature
Realxe, indolent
Unscruplulous
Neglectful of social chores
Changeable










Faktor H: Parinia (parasympathetic imuunity) vs Threctia (threat reactivity)
H+
H-
Adventurous, likes, meeting; people
Shows strong interest in opposite sex
Kindly, friendly
Frank
Impulsive (but no inner tension)
Likes to "get into the swim"
Self-confident
Carefree
Shy, timid, witlidwawn
Little interest in opposite sex
Hard, hostile
Secretive
Inhibited, conscientious
Recoils from life
Lacking confidence
Careful, concderate


Faktor I: Premsia vs Harria
I+
I-
Demanding, impatient
Dependent, immature
Kindly, friendly
Frank
Impulsive (but no inner tension)
Likes to "get into the swim"
Self confident
Carefree
Emotionaly mature
Independent-minded
Hard, hostile
Secretive
Unhibited, conscientious
Recoils from life
Lacking confidence
Careful, considerate









Faktor J: Coastheitia (TILinhing Neurasthenia) vs Zeppia
J+
J-
Acts individualistically
Passively pedantically obstructs
Show to make up his mind
Inactive, meekm quiet
Neuraschtencally neurotically fatigusd
Self sufficien
Evaluatics intellectuality
Personal peculiar interests
Goes with group
Co-operative enterprises
Decisive in thinking
Active, assertive
Vigprous
Assention gesting
Evaluates by continion standards
Common "wide" biterests

Faktor K: Contention vs Abetiltion
K+
K-
Intelectual interess, analitycal
Polished, poised, composed
Unshanlble
Independent-minded
Consctientious, idealistic
Aesthetic and mucisal tastes
Introspective, sensitive
Unreflective, narrow
Awleward, socially clumsy
Easily sociallu embarrassed
Going with the crowd
Lacking sence of any social duty
Lacking aesthetic interacts
Crude

Factor L: Protension (Paranoid trend) vs Inner Relaxation
L+
L-
Suspicious
Jealous
Self-suhfcient, withdrawn
Trustful
Understanding
Composed, socially at home





Factor M: Autia vs. Praxernia
M+
M-
Unconvetnional, ecceatric
Aesthetically fastidious
Sensitivelu imaginative
“A law unto himself', undependable
Placid, complacent, absorbed
Occasional hysterical emotional
Intellectual, cultured interests
Convensional
Uninterested in art
Practical and logical
Conscientious
Werryng, anxious, alret
Poised, tough control
Narrower interests upsets

Factor N: Shrewdness vs Natvety
N+
N-
Polished, socially skilful
Exact mind
Cool, aloof
Aestheticallu fastidious
Insightful regarding self
Insigtful regarding others
Socialy clumsy, awkward
Vague and sentimental mind
Company-seeking
Lacking independece of taste
Lacking self insight
Naive

Factor O: Guilt proneness vs Confidence
O+
O-
Worrying
Lonely
Suspeicious
Sensitive
Discouraged
Self-confident
Self-sulfficient
Accepting
Tough
Spiritual

2)     The Specification Equation
Spesifikasi equation merupakan cara untuk melukiskan ke­pribadian yang berhubungan dengan sifat-sifat 'abilitas temperamen, dan sifat-sifat lainnya, serta untuk memprediksi respon individu terhadap situasi-situasi tertentu. Cara tersebut menggunakan rumus sebagai berikut.
R       = S1 T1... sn Tn
R       = Respon atau tingkah laku individu dalam situasi tertentu
T       = Karakteristik respon individu atau traits yang ber­fungsi dalam situasi tersebut
S       = Situasi tersebut yang relevan dengan setiap traits

Jika sifat (traits) tertentu mempunyai relevansi (tingkat hubungan) yang tinggi dengan respon maka persesuaian dengan S akan menjadi besar; jika sifat itu semuanya tidak relevan, maka s akan menjadi 0 (nol); dan jika trait itu memperkecil atau merintangi respon maka tanda s akan menjadi negatif. Bentuk equasi ini berarti bahwa setiap trait itu mempunyai kebebasan (independent) dan memberikan pengaruh terhadap respon.
Spesifikasi equasi mencakup dimensi individu (person) dan situasi psikologis. Individu dilukiskan dengan skor-­skornya mengenai serangkaian trait, yaitu profile trait. Sedangkan situasi psikologis dilukiskan dengan situasi-­situasi atau profile yang lainnya.
Cattell menyatakan bahwa spesifikasi equasi dapat di­pandang sebagai suatu versi multidimensional dari formulasi Kurt Lewin mengenai tingkah laku berbagai fungsi dari individu dengan lingkungan, yaitu sebagai berikut.
B = F (P,E)
Di dalam spesifikasi equasi, individu (P) didefinisikan ke dalam rangkaian T, sedangkan lingkungan psikologis (E) ke dalam    rangkaian S.
Di dalam kehidupan akademis, spesifikasi equasi itu dapat dikembangkan untuk memprediksi prestasi akademis dari variabel ability dan kepribadian.
3)        Dynamic Traits (sifat-sifat yang dinamis)
Menurut Cattell, ada tiga jenis dynamic traits yang pokok yaitu: attitudes, ergs dan sentiment. Erg berhubungan dengan drive dasar atau drive biologis; sentimen diperoleh dari struktur attitude.  Ketiga jenis dynamic trait tersebut saling berhubungan di dalam dynamic lattice, dan peranannya di dalam konflik dan adjusment.
a)        Attitudes (sikap)
Menurut Cattell, sikap merupakan manifestasi variabel yang dinamis, dan pernyataannya dapat diamati sikap in­dividu dalam situasi tertentu merupakan suatu perhatian yang memiliki intensitas tertentu dan kecenderungan ber­tindak terhadap objek.
Contohnya, seperti sikap seorang pemuda: “saya ingin sekali mengawini seorang wanita”. Pernyataannya mengenai "ingin sekali" merupakan intensitas perhatian "mengawini" sebagai kecenderungan bertindak; dan seorang wanita" merupakan objek.
b)        Ergs
Pengertian ergs adalah constitutional, dynamic, dan coerce trait. Pengertian inilah yang memberinya kemungkinan untuk menunjukkan pentingnya faktor dasar dalam tingkah laku, yang oleh kebanyakan ahli psikologis Amerika diabaikan.
Cattell mendefinisikan erg itu sebagai disposisi psi­kofisik dasar (pembawaan) yang memungkinkan pemiliknya untuk memperoleh relativitas (perhatian pengakuan) terhadap objek-objek tertentu yang lebih siap dari yang lainnya; untuk mengalami emosi yang khusus terhadapnya; dan memulai suatu kegiatan yang lebih sempurna dalam tujuan kegiatan tertentu dari pada yang lainnya. Pola ini meliputi juga subsidiasi tingkah laku yang memadai untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam definisi tersebut terdapat empat bagian utama, yaitu: respon perseptual, respon emosional, tindakan in­strumental untuk mencapai tujuan, dan kepuasan men­capai tujuan itu sendiri.
Jika kedua bagian terakhir itu digabungkan, maka pendapat Cattell ini sama dengan pendapat McDougall, yang mengatakan bahwa setiap tindakan (yang merupakan pelaksanaan dari pada insting atau propencity), selalu mem­punyai tiga aspek yaitu: kognitif, afektif, dan konatif. Dengan demikian erg dapat diartikan sebagai disposisi kepribadian yang dibawa sejak lahir, yang terdiri atas komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif yang mendasari variasi kepribadian.
Cattell menetapkan 10 erg yang disusun berdasarkan penelitian analisis faktornya, yaitu sebagai berikut.
1.        Hunger (lapar)
2.        Sex
3.        Gregarousness (dorong untuk berkelompok)
4.        Parental protectiveness (perlindungan orang tua)
5.        Curiosity
6.        Escaper (fear)
7.        Pugnacity (sifat suka bertengkar/berkelahi)
8.        Acquisitiveness (sifat suka memiliki)
9.        Self-assertion (pengungkapan diri)
10.    Narcissistic sex (senang kepada seks diri sendiri).
c)        Sentimen
Sentimen adalah sifat lingkungan, dan sifat asal yang dinamis. Dengan demikian sentimen paralel dengan erg, hanya sentimen dihasilkan juga oleh faktor pengalaman atan faktor sosiso-cultural.
Menurut Cattell, sentimen adalah struktur trait di­namis yang pokok, yang menyebabkan individu menaruh perhatian terhadap objek tertentu, dan mereaksi dengan cara-cara tertentu pula.
Sentimen menurut Cattell, cenderung diorganisasi sakitar objek-objek kultural pokok, seperti lembaga­lembaga sosial, atau individu yang menghasilkan kon­stelasi sikap yang meluas selama individu mengalami hidupnya.
d)     Dinamic Lattice
Macam-macam trait yang dinamis saling berhubungan dalam pola subsidiasi (istilah ini dipinjam oleh Cattell dari Muray). Dikatakan demikian, karena elemen-elemen tertentu merupakan subsider (penopang) bagi yang lainnya atau melayani sebagai cara-cara untuk mencapai tujuan.
Pada umumnya,sikap merupakan subsider bagi sen­timen; dan sentimen bagi erg, yang menjadi kekuatan pendorong dalam kepribadian. Macam keterhubungan ini dinyatakan  dalam dynamic lattice.
Sentimen terhadap istri terbentuk atas pernyataan erg, mengenai sex, gregariousness protection, dan self-assertion, Sentimen terhadap Tuhan merupakan ekspresi dari unsur­-unsur erg, yaitu self-submission, dan appeal (permohonan). Sedangkan yang di sebelah kiri adalah attitude (sikap). Masing-masing sikap itu menjadi subsider bagi satu atau lebih sentimen. Di samping attitude kadang-kadang dapat berfungsi sebagai subsider bagi erg secara langsung.

4)        The Self
Self merupakan salah satu bagian dari sentimen, dan mem­punyai fungsi yang sangat penting. Fungsi self adalah me­ngintegrasikan segala komponen kepribadian, schingga kepribadian merupakan suatu “unitas” (suatu kesatuan).
Pendapat Cattell mengenai self ini mirip dengan pendapat Freud tentang ego, serta mirip dengan pendapat McDougal tentang sentiment of self regard.
Hal yang mengatur dan mengintegrasikan itu disebut oleh Cattell “structural self” atau “self sentiment”. Di samping struktural self ini ada juga ideal self dan real self. Ideal self adalah diri yang diinginkan (dicita-citakan) oleh seseorang, sedangkan real self adalah ciri yang seharusnya menurut pertimbangan rasional. Jadi setidak-tidaknya pada masa kanak-­kanak, real self ini merupakan refleksi yang sempurna dari ideal self, dan karenanya real self itu juga merupakan subsider terhadap ideal sell. Kalau perkembangan berlangsung dengan baik, real self dan ideal self akan berintegrasi, dan menjelma dalam sell sentitnetil. Inilah individu yang telah berpendirian (dan karenanya juga bertingkah laku) realistis.

5)        Konflik dan Penyesuaian
Cattell menunjukkan, bahwa untuk mengetahui konflik dan kecenderungan tingkah laku individu, adalah dengan cara spesifikasi equasi yang melibatkan sifat-sifat dinainis individu, seperti erg dan sentimen dalam suatu kegiatan. Contohnya, seorang laki-laki berminat untuk kawin. dengan menggunakan formula spesifikasi equasi, maka dapat di ­gambarkan sebagai berikut ini.
I Marry    = 0.2 E (curiosity) + 0.6 E (sex) + 04 E
                    (gregariousness) - 0.3 F, (fear) + 0.3 M
                    (parents) - 0.4 M (career) + 0.5 M (self)
E              = erg
M             = sentiment
Perkawinan itu secara potensial memberikan ganjalan terhadap erg-nya, yaitu sex, gregariousness, dan curiosity; dia berfikir bahwa orang tuanya pun menyetujuinya, dan ini sangat baik bagi self-esteemnya. Akan tetapi di samping itu sangat takut akan masa depan perkawinan itu, karena, mengancam karirnya.
Cattell menunjukkan bahwa index bagi tingkah konflik yaitu dengan rasio penjumlahan bobot situasi negatif dengan bobot situasi positif. Seperti contoh di atas dapat dihitung indexnya sebagai berikut:
(0.3+0.4)/(0.2+0.6+0.4+0.3+0.5)=0.7/20=0.35
(tingkat konflik tersebut sedang).
Untuk mengetahui tingkat adjustment (penyesuaian) atau integrasi motivasi dalam diri individu, adalah dengan rumus:
1 – C (index conflict)
Jadi tingkat adjusment itu adalah 1 - 0.35 = 0.65

6)        States, roles, dan sets
Pola-pola tertentu dalam maju mundurnya kepribadian dipengaruhi juga oleh faktor-faktor: mood states change perubahan suasana hati), a parson stepsinto or out of a par­ticular role (tahapan perubahan peranan individu), dan mo­nentary mental sets (set mental sesaat) yang disesuaikan dengan aspek-aspek lingkungan.
Semua faktor tersebuut mempengaruhi tingkah laku, oleh karena itu faktor tersebut harus dilibatkan dalam spesifikasi equasi. Dengan demikian untuk menjelaskan perilaku (behav­ior) individu melalui spesifikasi equasi adalah sebagai berikut.
B       = a (ability) + T (temperament) + e (erg) + s (sentoment) +  
             st (suite) + r (role) + s (set).

2.4         Perkembangan kepribadian
a.        Analisis Pembawaan dan Lingkungan
Cattell, dalam beberapa tahun lamanya telah menaruh perhatiannya secara aktif untuk menaksir bobot pengaruh faktor genetik dan lingkungan terhadap traits (sifat-sifat/karakteristik).
Untuk mencapai tujuan tersebut, dia mengembangkan suatu metode (1960) yang disebut MAVA. (Multiple Abatract Variance Analisys). Data yang telah dikumpulkan dengan alat tersebut, dianalisis dan kemudian membuat estimasi mengenai proporsi variasi individual bagi setiap trait yang dihubungkan dengan macam-macam genetic dan lingkungan, dan kemudian dicari korelasi dan interaksi di antara faktor-faktor tersebut.
Dari hasil studinya, ada satu kecenderungan bahwa korelasi antara hereditas dengan lingkungan lebih banyak negatif. Cattell menafsirkan penemuan ini, sebagai bukti untuk a law of coerctionto the biosocial mean, yaitu suatu kecenderungan dari pengaruh lingkungan untuk menentang secara sistematis terhadap ekspresi variasi genetic. Seperti bila orang tua (unsur social lainnya) mencoba untuk membedakan anak-anaknya dari norma yang sama, mengenai tingkah laku dengan menanamkan rasa malu terhadap yang satu, dan membiarkan berbuat sewenang-wenang terhadap lainnya.

b.        Belajar (learning)
Cattell mengemukakan tiga jenis belajar yang memainkan peranan penting dalam perkembangan kepribadian, yaitu sebagai berikut.
1.        Clasical conditioning
2.        Instrumental cooperatif conditioning
3.        Integration learning
Cattell berpendapat bahwa clasical conditioning dianggap penting dalam memperoleh respon-respon emosional dan syarat lingkungan; sedangkan instrumental conditioning untuk menetapkan cara-cara memuaskan tujuan erg.
Suatu bentuk dari instrumental conditioning dalam mem­pelajari kepribadian disebut confluence learning, yaitu tingkah laku atau sikap secara simultan memuaskan lebih dari satu tujuan. Dengan demikian satu sikap dapat men­jembatani beberapa macam sentimen, dan satu sentiment terhadap beberapa erg.
Jenis ketiga dari belajar itu adalah integrasi learning jenis ini nampaknya sebagai faktor esensial dari bentuk instrumen­tal learning yang lebih seksama. Di dalam belajar integrasi, individu belajar untuk memperluas pemuasan dengan menyatakan unsur-unsur erg pada berbagai moment (kesempatan), suppressing (pelarangan), represi, atau usaha sub­limasi lainnya. Belajar integrasi ini merupakan aspek kunci dari formasi self dan super ego sentiment.
Menurut Cattell, personality learning sebaiknya di­lukiskan sebagai perubahan multidimensional dalam me­respon pengalaman dalam situasi yang multidimensional pula. Suatu cara mempelajari personal itu learning, adalah dengan suatu prosedur yang disebut adjustment path analy­sis. Caranya: pertama, dengan informasi tentang perubahan trait yang terjadi di dalam sejumlah diri individu, boleh jadi di dalam merespon keteraturan hidup itu, mereka dapat menyesuaikan diri. Kedua, dengan analisis teoretis mengenai macam-macam cara adjusment yang memungkinkan (seperti regresi, sublimasi, fantasi, dan simpotneurotik) individu dapat merespon situasi kehidupan yang konflik.
Cattell telah melengkapi analisis teoretis mengenai adjusment ini dengan suatu serial dynamic cross road, atau chiams. Dynamic cross road yang dilalui individu dalam perkembangannya itu adalah sebagai berikut.
1)        Dynamic cross road yang pertama
Ini terjadi apabila individu memeulai usaha untuk mendapatkan pemuasan bagi sesuatu erg tertentu. Akibat dari usaha ini mungkin individu memperoleh kepuasan, akan tetapi mungkin juga gagal karena menghadapi rintangan.

2)        Dynamic cross road kedua
Yang kedua ini, individu mulai berada pada keadaan gagal dalam mencapai tujuan karena adanya rintangan yang dihadapinya. Untuk merespon kegagalan tersebut mungkin individu memberikan respon sebagai berikut.
a)        meningkatkan aktivitas yang menuju pemuasan;
b)        marah yang dapat mengatasi rintangan dan menuju kepemuasan;
c)        marah yang membuktikan kegagalan dalam menghadapi rintangan.
3)        Dynamic cross road ketiga
Yang ketiga ini mulai, apabila individu bereaksi dengan kemarahan tapi tidak mengatasi masalahnya. Akibat dari situasi ini mungkin individu akan:
a)        Putus asa atau menyerah;
b)        Takut dan menarik diri;
c)        Tetap pada agresinya yang tak efektif;
d)       Lari ke dalam fantasi
4)        Dynamic cross road keempat
Pada yang keempat ini, individu meninggalkan erg yang bersangkutan. Dalam keadaan ini respon individu mungkin:
a)        Menekan erg (refresi)
b)        Mensublimasikan erg kepada tujuan lain yang dapat lebih diterima;
c)        Tetap pada tingkah laku yang non-adaptif.
5)        Dynamic cross road kelima
Pada yang kelima ini, berawal pada keadaan individu yang melakukan penekanan (represi). Dalam menghadapi situasi seperti ini, ada beberapa respon individu yang nungkin timbul, yaitu:
a)        Membentuk fantasi;
b)        Mensublimasikannya
c)        Dynamic cross road keenam
6)        Dynamic cross road yang keenam
Yang ke enam ini berawal dari penekanan yang tidak sepenuhnya berhasil, karena impuls-impulsnya itu masih nuncul dalam kesadaran. Dalam keadaan ini Cattell menunjukkan sepuluh jalan yang dapat ditempuh, yaitu dalam bentuk-bentuk mekanisme pertahanan, di antaranya: fantasi, proyeksi, rasionalisasi, dan regresi.

2.5         Konteks Sosial
Kehidupan sosiokultural dapat dipandang sebagai faktor determinan yang mempengaruhi tingkah laku (kepribadian). Dalam hal ini Cattell menggunakan istilah syntality untuk kelompok (equivalent dengan kepribadian untuk individu).
Untuk mempelajari kepribadian dalam hubungannya dengan faktor sosio-kultural adalah membuat rencandraan mengenai syntality berbagai kelompok yang mempengaruhi kepribadian individu yang sedang dipelajari.
Banyak lembaga sosial yang berpengaruh terhadap kepribadian, seperti: keluarga, pekerjaan, sekolah, kelompok sebaya, agama, dan partai politik. Dengan demikian, untuk dapat memahami perkembangan kepribadian secara baik, perlu membuat spesifikasi mengenai peranan pengaruh lembaga sosial itu terhadap kepribadian individu dalam per­kembangannya.










BAB III
PENUTUP
3.1         Kesimpulan
a.      Implikasi Teori Kepribadian Cattell terhadap Bimbingan dan Konseling
Dalam memahami kepribadian, Cattell menggunakan berbagai pendekatan, seperti: life record, self rating dan objective test, Hal ini mengimplikasikan tentang perlunya menggunakan berbagai alat atau teknik pengumpulan data untuk memahami kepribadian siswa (klien). Hal ini juga mengisyaratkan bahwa konselor perlu memahami tentang alat-alat pengumpul data, dan mampu menafsirkan atau menganalisis data tersebut.
Konsep kepribadian menurut Cattell meliputi “all behav­ior” dari individu, baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Sehubungan dengan hal tersebut maka konselor dalam memahami kepribadian klien itu, jangan mengidentifikasi perilakunya yang nampak saja, tetapi juga tingkah laku yang berada di balik tingkah laku yang nampak tersebut. Karena pada umumnya masalah klien itu justru terletak pada tingkah lakunya yang tidak nampak itu.
Setiap individu memiliki dynamic trait, yaitu sikap, erg dan sentimen. Sifat-sifat tersebut sangat mempengaruhi tingkah laku individu. Oleh karena itu, dalam membantu pemecahan masalah klien, konselor perlu menelusuri dinamika ketiga jenis sifat tersebut pada diri klien.
Perkembangan kepribadian individu, akan berlangsung dengan baik, bila terdapat integrasi antara ideal self dan real self-nya. Akan tetapi apabila yang terjadi kebaliknya, yaitu adanya kesenjangan antara kedua self tersebut, maka akan terjadi degredasi kepribadian. Individu yang seperti ini akan mengalami berbagai masalah, di antaranya gejala salah suai. Gejala ini sering dialami oleh para siswa. Oleh karena itu, konselor perlu memberikan bantuan kepada mereka, agar dapat mengintegrasikan ideal self dengan real self-nya.


DAFTAR PUSTAKA

·         Nurihsan Juntika. A dan L.N Yusuf Syamsu. 2000. Teori Kepribadian. Jakarta : Rosda
·         http://www.google.com/index.php.analisisfaktor.net.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar